Daerah perairannya meliputi 3.214 pulau besar maupun kecil dan hanya 743 pulau yang telah memiliki nama. Mayoritas pulau-pulau kecil yang tersebar di perairan Laut Cina Selatan bahkan belum berpenghuni. Sementara di daerah daratan terdapat 15 sungai diantaranya ada 4 sungai yang mempunyai arti penting sebagai sarana perhubungan. Sungai tersebut adalah Sungai Siak sepanjang 300 km dengan kedalaman 8-12 meter, Sungai Rokan (400 km) dengan kedalaman 6-8 meter, Sungai Kampar (400 km) dengan kedalaman sekitar 6 meter dan Sungai Indragiri (500 km) dengan kedalaman sekitar 6-8 meter.
Keempat sungai ini membelah pegunungan daratan tinggi Bukit Barisan dan bermuara di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru, terletak di bagian Riau Daratan dan merupakan kota terbesar di Provinsi ini. Riau Kepulauan sebaliknya menyimpan potensi wisata yang besar, dan kawasan ini dapat berkembang menjadi salah satu kawasan wisata bahari terbaik di Indonesia. Pulau Batam dan Bintan telah dikembangkan menjadi kawasan wisata resort kelas satu dan sasilitas lainnya yang memadai. Riau berhadapan langsung dengan Malaysia dan Singapura yang merupakan titik silang alur perdagangan dunia yaitu Jepang, Hongkong, Korea, Timur Tengah, Eropa dan Australia. Posisinya yang sangat strategis ini menempatkan Riau di tengah segitiga pertumbuhan Indonesia, Singapura dan Malaysia.
Selain itu, Provinsi Riau juga mudah dicapai dari Singapura, hanya beberapa menit dengan menumpang kapal hydrofoil dimana wisatawan dari negara tetangga itu menghabiskan waktu akhir pekannya di Batam, Bintan dan pulau-pulau lainnya. Sebagai bagian dari mata rantai dan pewaris kejayaan Kesultanan Melayu di masa silam, Bumi Riau menyimpan berbagai khasanah warisan budaya dan sejarah Melayu yang dapat disaksikan di Pulau Penyengat, Kekayaan flora dan fauna langka juga hidup di Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Keberadaan masyarakat terasing Suku Talang Mamak dengan pola hidup dan tradisi yang masih sangat tergantung pada alam dan kehidupannya yang berpindah-pindah menjadi daya tarik tersendiri dari Provinsi Riau.
Rimba raya Riau daratan juga mewarisi peninggalan masa lampau berupa komplek candi Muara Takus yang berdiri kokoh jauh dari kehidupannya modern, memancarkan suasana mistis. Sementara di tepian sungai Siak yang berhulu jauh ke pedalaman berdiri pula komplek istana bekas Kesultanan Siak Sri Indrapura dengan bangunan berarsitektur paduan Arab, India, Eropa dan gaya tradisional Melayu. <Selanjutnya Sejarah Singkat Riau>
Keempat sungai ini membelah pegunungan daratan tinggi Bukit Barisan dan bermuara di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru, terletak di bagian Riau Daratan dan merupakan kota terbesar di Provinsi ini. Riau Kepulauan sebaliknya menyimpan potensi wisata yang besar, dan kawasan ini dapat berkembang menjadi salah satu kawasan wisata bahari terbaik di Indonesia. Pulau Batam dan Bintan telah dikembangkan menjadi kawasan wisata resort kelas satu dan sasilitas lainnya yang memadai. Riau berhadapan langsung dengan Malaysia dan Singapura yang merupakan titik silang alur perdagangan dunia yaitu Jepang, Hongkong, Korea, Timur Tengah, Eropa dan Australia. Posisinya yang sangat strategis ini menempatkan Riau di tengah segitiga pertumbuhan Indonesia, Singapura dan Malaysia.
Selain itu, Provinsi Riau juga mudah dicapai dari Singapura, hanya beberapa menit dengan menumpang kapal hydrofoil dimana wisatawan dari negara tetangga itu menghabiskan waktu akhir pekannya di Batam, Bintan dan pulau-pulau lainnya. Sebagai bagian dari mata rantai dan pewaris kejayaan Kesultanan Melayu di masa silam, Bumi Riau menyimpan berbagai khasanah warisan budaya dan sejarah Melayu yang dapat disaksikan di Pulau Penyengat, Kekayaan flora dan fauna langka juga hidup di Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Keberadaan masyarakat terasing Suku Talang Mamak dengan pola hidup dan tradisi yang masih sangat tergantung pada alam dan kehidupannya yang berpindah-pindah menjadi daya tarik tersendiri dari Provinsi Riau.
Rimba raya Riau daratan juga mewarisi peninggalan masa lampau berupa komplek candi Muara Takus yang berdiri kokoh jauh dari kehidupannya modern, memancarkan suasana mistis. Sementara di tepian sungai Siak yang berhulu jauh ke pedalaman berdiri pula komplek istana bekas Kesultanan Siak Sri Indrapura dengan bangunan berarsitektur paduan Arab, India, Eropa dan gaya tradisional Melayu. <Selanjutnya Sejarah Singkat Riau>
0 komentar:
Posting Komentar