Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada peradaban prasejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu beralih pada kebudayaan Islam pada abad ke-16. Di Banten Lama juga masih ada tinggalan bangunan berupa keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, Klenteng Kwan Im Hud Cow dan Masjid Agung Banten. Nama Keraton Kaibon yang dibangun pada tahun 1815 ini diambil dari kata keibuan. Pada waktu itu, sultan ke-21 yaitu Sultan Syafiuddin masih sangat belia sehingga pemerintahan dijalankan oleh ibundanya, Ratu Aisyah.Pada tahun 1832, keraton dihancurkan oleh pemerintahan Belanda bersama-sama dengan keraton lainnya, termasuk Keraton Surowosan. Asal muasal penghancuran keraton konon ketika Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Daendels meminta kepada Sultan Syafiudin untuk meneruskan proyek pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan, juga pelabuhan armada Belanda di Teluk Lada (di Labuhan).
Namun, Sultan Syafiuddin dengan tegas menolak. Dia bahkan memancung kepad Du Puy dan menyerahkannya kembali kepada Daendels yang kemudian marah besar dan menghancurkan Keraton Kaibon. Sebagian sultan yang memerintah di Banten Lama dikuburkan di pemakaman dekat dengan Masjid Agung Banten yang didirikan Sultan Maulana Hasanuddin. Masjid yang telah delapan kali dipugar antara tahun 1923-1987 ini sampai sekarang terus dibanjiri peziarah dari berbagai pelosk Indonesia. (Sejarah Banten, Lanjutan)

0 komentar:
Posting Komentar