Negeri Pesona

Merupakan blog nusantara yang menyajikan informasi mengenai keadaan geografis dan budaya.

Sejarah Banten

Meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883 di Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera membuat nama Banten mendunia. Letusan yang terdengar hingga Australia Barat dan Kolombo ini menyebabkan awan hitam hingga seminggu lamanya bahkan sampai ke Eropa. Anak Krakatau kemudian muncul ke permukaan pada tahun 1928 dan masih aktif hingga kini. Masyarakat Banten umumnya penganut agama Islam yang taat dan memiliki akar budaya kuat. Islam masuk ke Banten melalui Sumatera dan Sulawesi pada abad ke 15. Serang selain menjadi ibukota provinsi juga banyak memiliki obyek-wisata sejarah dan ziarah terutama di kawasan Banten Lama, pantai-pantai dan Taman Nasional Ujung Kulon yang menjadi habitat badak bercula satu.
Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada peradaban prasejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu beralih pada kebudayaan Islam pada abad ke-16. Di Banten Lama juga masih ada tinggalan bangunan berupa keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, Klenteng Kwan Im Hud Cow dan Masjid Agung Banten. Nama Keraton Kaibon yang dibangun pada tahun 1815 ini diambil dari kata keibuan. Pada waktu itu, sultan ke-21 yaitu Sultan Syafiuddin masih sangat belia sehingga pemerintahan dijalankan oleh ibundanya, Ratu Aisyah.
Pada tahun 1832, keraton dihancurkan oleh pemerintahan Belanda bersama-sama dengan keraton lainnya, termasuk Keraton Surowosan. Asal muasal penghancuran keraton konon ketika Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Daendels meminta kepada Sultan Syafiudin untuk meneruskan proyek pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan, juga pelabuhan armada Belanda di Teluk Lada (di Labuhan).
Namun, Sultan Syafiuddin dengan tegas menolak. Dia bahkan memancung kepad Du Puy dan menyerahkannya kembali kepada Daendels yang kemudian marah besar dan menghancurkan Keraton Kaibon. Sebagian sultan yang memerintah di Banten Lama dikuburkan di pemakaman dekat dengan Masjid Agung Banten yang didirikan Sultan Maulana Hasanuddin. Masjid yang telah delapan kali dipugar antara tahun 1923-1987 ini sampai sekarang terus dibanjiri peziarah dari berbagai pelosk Indonesia. (Sejarah Banten, Lanjutan)
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar