Dikenal sekarang dengan sebutan 'Jakarta Kota' memiliki sisa-sisa peninggalan kolonial Belanda yang tertua di Indonesia. Sebagian dari sisa-sisa bangunan peninggalan Belanda dapat dilihat disini malah sejumlah bangunan itu masih tetap dipakai hingga kini sebagai perkantoran. Pada tahun 1970-an sebagian bangunan peninggalan Belanda ini telah mengalami restorasi dan dijadikan museum. Di kawasan ini dulu pernah berdiri benteng Belanda yang besar dan kuat, dilindungo oleh dinding yang sangat kokoh dan parit yang mengelilinginya. Dalam sejarahnya, Gubernur Jenderal Daendels pernah menghancurkan sebagian bangunan yang terdapat di Batavia.
Pusat dari kota Batavia di Taman Fatahillah yang merupakan suatu ruangan terbuka berbentuk segi empat dimana setiap sisinya berbatasan dengan jalan raya. Disebelah Barat, satu blok dari Taman Fatahillah, terdapat Kali Besar yang merupakan sebuah saluran air (kanal) yang memiliki kedudukan sejajar dengan Kali Ciliwung di sebelah Timur Taman Fatahillah. Kawasan ini dulu merupakan kawasan perumahan elit Belanda. Disebelah barat kanal terdapat beberapa rumah yang dibangun pada awal abad ke-18. Sebuah bangunan bernama 'Toko Merah' dulunya merupakan tempat tinggal Gubernur Jenderal Belanda van Imhoff, gedung itu sekarang digunakan oleh Perusahaan Dharma Niaga. Di uung utara Kali Besar terdapat peninggalan terakhir Belanda yang berupa jembatan angkat yang dibangun pada abad ke-17. Jembatan ini sekarang disebut sebagai Jembatan Pasar Ayam.
Sejarah masa silam juga dapat ditelusuri dengan melakukan wisata rohani karena sebagai kota multikultur, Jakarta memiliki tempat-tempat ibadah yang hingga kini masih digunakan sebagai saran peribadatan seperti mesjid Istiqlal, gereja Sion, gereja tertua di Jakarta, merupakan peninggalan bangsa Portugis yang mulai dibangun pada tanggal 20 Feburuari 1693. Dulu bernama Portugeesche buitenkerk. Terletak di Jalan Pangeran Jayakarta. Didalam gereja terdapat Prasasti Kayu yang menjelaskan pembangunan gereja tersebut, ada tempat lampu kroon, sebagai tempat lilin. Mimbar buatan 1695 dan beberapa kursi hadiah Gubernur Jenderal Van der Parra.
Gereja Sion yang terletak di Jl. Pangeran Jayakarta didekat stasiun kereta api Kota ini diperuntukkan bagi sekelompok masyarakat yang disebut 'orang Portugis hitam' yaitu orang yang berasal dari India dan Malaya yang diculik dan dibawa ke Batavia untuk dijadikan budak. Sebagian besar budak ini beragama Kristen Katolik, namun mereka dibebaskan dari status budak setelah stuju untuk menjadi pengkut dari Gereja Reformis Belanda. Orang-orang yang pindah agama ini kemudian disebut sebagai 'Mardijkers' yang berarti 'mereka yang dibebaskan'.
Bagian luar gereja ini memilik bentuk yang sangat sederhana dan di dalam gereja terdapat lampu gantung besar terbuat dari tembaga, juga sebuah organ tua, dan sebuah mimbar bergaya Baroque. Sebagian dari kompleks gereja ini dulunya digunakan sebagai pemakaman dimana pada tahun 1790 lebih dari 2.000 jenazah dimakamkan disini namun hanya sedikit sekali batu nisan kuburan yang tersisa. Batu nisan yang paling menarik terbuat dari perunggu, yang berukir terdapat pada kuburan milik Gubernur Jenderal Zwaardecroon yang meninggal pada tahun 1728 yang dikuburkan di kuburan rakyat kelas bawah ini sesuai dengan permintaannya ketika ia masih hidup. (Masjid-Masjid Tua).
Bagian luar gereja ini memilik bentuk yang sangat sederhana dan di dalam gereja terdapat lampu gantung besar terbuat dari tembaga, juga sebuah organ tua, dan sebuah mimbar bergaya Baroque. Sebagian dari kompleks gereja ini dulunya digunakan sebagai pemakaman dimana pada tahun 1790 lebih dari 2.000 jenazah dimakamkan disini namun hanya sedikit sekali batu nisan kuburan yang tersisa. Batu nisan yang paling menarik terbuat dari perunggu, yang berukir terdapat pada kuburan milik Gubernur Jenderal Zwaardecroon yang meninggal pada tahun 1728 yang dikuburkan di kuburan rakyat kelas bawah ini sesuai dengan permintaannya ketika ia masih hidup. (Masjid-Masjid Tua).
0 komentar:
Posting Komentar