Medan adalah ibukota Provinsi yang
dinamis dan kota terbesar di Sumatera Utara atau ketiga terbesar di Indonesia
setelah Jakarta dan Surabaya. Kota ini merupakan kota multi etnis yang menarik.
Di kota pelabuhan ini ada beragam etnis dan agama terlihat dari jumlah masjid,
gereja dan vihara Tionghoa yang banyak tersebar di seluruh kota. Disini
terdapat Sri Mariamman rumah ibadah
agama Hindu yang dibangun untuk memuja Dewi Kali pada tahun 1884. Banyak
dikunjungi oleh masyarakat India yang berasal dari India bagian Selatan, yang
dating ke Medan pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Salah satu ciri Kota
Medan adalah keberadaan gedung-gedung tuanya yang merupakan tinggalanmasa
colonial. Dua bangunan tua yang paling terkenal dan paling menarik untuk
dilihat di Medan adalah Istana Maimun
(Maimoon) dan Masjid Raya Medan. Istana Maimun merupakan istana dari
sultan-sultan Deli. Istana yang dibangun oleh Sultan Deli pada tahun 1888.
Warna kuning menjadi warna utama di Istana yang memiliki arsitektur khas
Melayu. Ruang penerimaan tamu istana yang terbuka untuk umum dihiasi dengan
potret tinggalan keluarga kerajaan Deli, perabotan tua peninggalan Belanda dan
beberapa laras senjata. Disebelah Istana Maimun terdapat sebuah balai terbuka
yang mirip dengan rumah tradisional Batak Karo, di dalam bangunan ini terdapat
sebuah meriam kuno yang diberi nama meriam punting yang memiliki kaitan dengan
legenda Puteri Hijau, pahlawan perang Deli melawan Aceh pada abad ke 16. Puteri
Hijau dikabarkan berasal dari dataran tinggi Karo, sehingga Deli dianggap
memiliki hubungan dekan dengan masyarakat Batak Karo. Dekat istana Maimun,
melewati rel kereta api ke arah Timur, di persimpangan antara Jl. Mesjid Raya
dan Jl. Sisingamangaraja terdapat Masjid Raya Medan atau Masjid Raya Al Mashun
yang gagah dengan kubah berwarna hitam. Inilah masjid yang sangat unik, indah,
megah dan tiada duanya di Indonesia. Masjid Raya ini memiliki banyak pilar yang
melengkung di bagian atasnya dengan bentuk yang mengesankan. Di bangun dengan
gaya arsitektur campuran yang mengandung unsur Timur Tengah, India dan Spanyol.
Di dekat masjid terdapat makam keluarga kerajaan. Dari kompleks masjid ini kita
dapat melihat menara air Medan yang tinggi, telah menjadi symbol dari Kota
Medan.
Disepanjang Jl. Soekarno-Hatta dan Jl.
Ahmad Yani terdapat banyak bangunan peninggalan colonial bergaya Eropa seperti
bangunan Bank Indonesia, Balai Kota, dan Kantor Pos. jalan ini menjadi jalan
utama di Medan sejak zaman penjajahan Belanda. Disalah satu ruas jalan, di
belakang deretan toko-toko Cina, terdapat Rumah Tjong A Fie yaitu sebuah rumah
besar bergaya Cina dengan ornament dan hiasan yang indah. Bangunan yang menarik
pandangan mata ini dulunya adalah rumah milik Tjong A Fie yang dikenal sebagai
pengusaha perkebunan kaya. Rumah ini dibangun pada saat jaya-jayanya perusahaan
perkebunan di sekitar Medan pada tahun 1920-1930.
Jika anda ingin mengetahui bagaimana suasana
kehidupan masa colonial di Medan di tahun 1920-1930 maka datanglah ke kawasan
Polonia yang terletak berdekatan dengan bandara udara Polonia. Kawasan ini
adalah deretan rumah-rumah dari masa colonial dengan gaya bungalow. Sayangnya
banyak bangunan peninggalan colonial di kawasan ini telah dirubah oleh
pemiliknya, disesuaikan dengan selera modern saat ini. < Keragaman Tradisi danBudaya dan Kabupaten Toba Samosir>
0 komentar:
Posting Komentar