Kota yang terletak di ujung Utara Teluk Lampung ini adalah kota terbesar di Lampung dan merupakan ibukota Provinsi Lampung. Berbagai obyek wisata seperti wisata pantai, budaya, alam pegunungan atau wisata petualangan di hutan dan sungai, selam dan pancing dapat dengan mudah dijangkau dari kota ini. Obyek wisat asekitar Bandar Lampung terletak saling berdekatan sehingga perjalanan wisata didaerah ini menjadi sangat menyenangkan karena banyak tempat yang bisa dilihat.
Bandar Lampung pada mulanya terdiri dari dua kota yaitu Tanjungkarang yang berada di sebuah bukit dan Telukbetung yang berada ditepi pantai Teluk Lampung. Kedua kota ini kemudian melebur menjadi satu kota dengan nama Bandar Lampung dan menjadi kota terbesar ke empat di Sumatera. Prasarana umum cukup tersedia di Bandar Lampung seperti taksi, bus dalam kota, kereta api dan pusat perbelanjaan. Pada masa lalu, kota Telukbetung adalah kawasan yang paling parah menerima gelombang pasang setinggi 40 meter, ketika Gunung Krakatau meletus di tahun 1883. Hampir separuh dari seluruh korban tewas akibat letusan Krakatau yang berjumlah 36.000 jiwa adalah penduduk Telukbetung. Sebuah monumen berupa rambu laut dibangun pada sebuah bukit di Telukbetung untuk mengenang bencana alam itu.
Monumen Krakatau merupakan merupakan monumen peringatan meletusnya Gunung Krakatau. Terletak di Jl. WR. Supratman, Telukbetung (Taman Dipangga). Monumen ini berupa rambu laut seberat setengah ton yang terlempar akibat gelombang pasang atau tsunami setingga kurang lebih 40 meter yang ditimbulkan oleh letusan Krakatau di tahun 1883. Kala itu taman ini merupakan bagian dari lokasi kantor Residen Lampung dan dua pohon beringin dan pohon Ambon menaungi monumen tersebut dengan latar belakang suasana pusat kota Telukbetung. Dengan budayanya yang khas masyarakat Lampung di wilayah Bandar Lampung juga masih memiliki bangunan rumah tradisional di Kampung Ulok Gading. Rumah ini merupakan kediaman pemuka adat dari salah satu kebandaran dalam struktur adat Lampung Peminggir/Sebatin. Bentuk teras, tangga rumah serta letak kamar dan dapur beserta berbagai pusaka di dalam rumah ditata, sehingga kita dapat mengetahui kekhasan rumah adat ini.
Museum Sang Bumi Ruwa Jurai (Museum Lampung)
Adalah salah satu tempat kunjungan wisata sejarah yang dapat digunakan untuk sarana pendidikan, penelitian dan rekreasi. Terletak di Jl. ZA. Pagaralam sekitar 5 km di sebelah Utara pusat kota Tanjung Karang dan hanya 400 meter dari terminal bus Rajabasa. Koleksi yang dapat dijumpai adalah benda-benda seni, keramik dari negeri Siam dan China pada masa dinasti Ming. Stempel dan mata uang kuno pada masa penjajahan Belanda tertata dengan indah. (Tinggalan Arkeologi)
Bandar Lampung pada mulanya terdiri dari dua kota yaitu Tanjungkarang yang berada di sebuah bukit dan Telukbetung yang berada ditepi pantai Teluk Lampung. Kedua kota ini kemudian melebur menjadi satu kota dengan nama Bandar Lampung dan menjadi kota terbesar ke empat di Sumatera. Prasarana umum cukup tersedia di Bandar Lampung seperti taksi, bus dalam kota, kereta api dan pusat perbelanjaan. Pada masa lalu, kota Telukbetung adalah kawasan yang paling parah menerima gelombang pasang setinggi 40 meter, ketika Gunung Krakatau meletus di tahun 1883. Hampir separuh dari seluruh korban tewas akibat letusan Krakatau yang berjumlah 36.000 jiwa adalah penduduk Telukbetung. Sebuah monumen berupa rambu laut dibangun pada sebuah bukit di Telukbetung untuk mengenang bencana alam itu.
Monumen Krakatau merupakan merupakan monumen peringatan meletusnya Gunung Krakatau. Terletak di Jl. WR. Supratman, Telukbetung (Taman Dipangga). Monumen ini berupa rambu laut seberat setengah ton yang terlempar akibat gelombang pasang atau tsunami setingga kurang lebih 40 meter yang ditimbulkan oleh letusan Krakatau di tahun 1883. Kala itu taman ini merupakan bagian dari lokasi kantor Residen Lampung dan dua pohon beringin dan pohon Ambon menaungi monumen tersebut dengan latar belakang suasana pusat kota Telukbetung. Dengan budayanya yang khas masyarakat Lampung di wilayah Bandar Lampung juga masih memiliki bangunan rumah tradisional di Kampung Ulok Gading. Rumah ini merupakan kediaman pemuka adat dari salah satu kebandaran dalam struktur adat Lampung Peminggir/Sebatin. Bentuk teras, tangga rumah serta letak kamar dan dapur beserta berbagai pusaka di dalam rumah ditata, sehingga kita dapat mengetahui kekhasan rumah adat ini.
Museum Sang Bumi Ruwa Jurai (Museum Lampung)
Adalah salah satu tempat kunjungan wisata sejarah yang dapat digunakan untuk sarana pendidikan, penelitian dan rekreasi. Terletak di Jl. ZA. Pagaralam sekitar 5 km di sebelah Utara pusat kota Tanjung Karang dan hanya 400 meter dari terminal bus Rajabasa. Koleksi yang dapat dijumpai adalah benda-benda seni, keramik dari negeri Siam dan China pada masa dinasti Ming. Stempel dan mata uang kuno pada masa penjajahan Belanda tertata dengan indah. (Tinggalan Arkeologi)


0 komentar:
Posting Komentar