Negeri Pesona

Merupakan blog nusantara yang menyajikan informasi mengenai keadaan geografis dan budaya.

Kabupaten Aceh Jaya

Kabupaten Aceh Jaya adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat. Sebelah Utara kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar, sebelah Barat dibatasi oleh Samudera Hindia, kemudian sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Barat dan sebelah Timur dengan Kabupaten Pidie. Karena berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, Pesisir Aceh bagian Barat kerap dipuji memiliki kawasan pantai terindah di seluruh Aceh. Sejak abad ke -18 tersohor sebagai persinggahan kapal pengangkut lada dari Amerika. Dalam buku The Contest for North Sumatra: Atjen, the Netherlands and Britain, 1858-1898 (1969), Anthony Reid mencatat bahwa pada tahun 1820, lada dari beberapa pelabuhan di Aceh Barat, seperti Patek, Rigah, Calang, Teunom, dan Meulaboh, menjadi komoditas terkenal di Massachustts, Amerika Serikat. Kini, semua itu tinggal kenangan. Bencana alam seperti gelombang pasang, hujan deras pulus angin kencang yang sering menyebabkan banjir, longsor, dan pusutsnya sarana transportasi dan komunikasi seolah tak pernah lepas dari daerah ini. 

Di awal 1990 –an wisatawan asing banyak berkunjung ke Aceh Jaya saat tergabung dalam Kabupaten Aceh Barat. Mereka berselancar, menyelam, dan menikmati keindahan laut di pantai yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Animo turis asing sangat tinggi terhadap tempat ini. Di Kuala Dou, kecamatan Setia Bakti, seorang arsitektur asing membangun pondok-pondok wisata da ada juga pondok yang dibangun di atas pohon. Kondisi kian mencekam karena kontak senjata antara GAM dan TNI membuat wisatawan enggan untuk berkunjung kesana. Kabupaten Aceh Jaya, khususnya kecamatan Jaya terkenal dengan profil penduduknya yang khas. Sebagian penduduk berprofil seperti orang Eropa dimana ada yang berkulit putih dan bermata biru dan berambut pirang. Mereka keturunan dari prajurit Portugis di abad 16 yang kapalnya terdampar di Pantai Kerajaan Daya, dan di tawan oleh raja kawasan itu. Di pasar Patek, pada lintasan Banda Aceh-Meulaboh banyak sosok “bule” itu dengan mudah ditemukan. Mereka bergaul dan bercanda dengan sesame temannya dengan akrab. Dari cerita yang berkembang di masyarakat diketahui bahwa mereka berdara Portugis. Setidaknya dari garis ayah, sejak abad ke 15  lalu. Kala itu sebuah kapal Portugis di taklukkan serdadu kerajaan Daya, bagian dari Kerajaan Aceh di perairan Samudera Hindia. Orang-orang di kapal tersebut kemudian ditawan oleh kerajaan. Namun dalam perkembangan selanjutnya mereka malah masuk Islam dan tetap tinggal di sana serta kawin dengan penduduk setempat. Jadilah kemudian turunan mereka berkulit putih dan bermata biru hingga sekarang. <Selengkapnya Informasi Hotel dan Restoran di Nanggroe Aceh Darussalam>
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar